(e-SH) 7 Juni -- Ayub 32 - Menghadapi Perselisihan

Posted On // Leave a Comment
e-SH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                        e-Santapan Harian
      Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA

Tanggal: Rabu, 7 Juni 2023
Ayat SH: Ayub 32

Judul: Menghadapi Perselisihan

Ketika terjadi perselisihan antara dua pihak, biasanya ada pihak ketiga yang menjadi penengah agar perdamaian bisa terjadi. Namun, pihak ketiga ini tidak selalu memainkan peran yang tepat. Kadang dia bisa berat sebelah, kadang juga dia memberi masukan yang keliru dan tidak bertanggung jawab.

Dalam percakapan antara Ayub dan sahabat-sahabatnya, muncul tokoh baru bernama Elihu. Ia seorang yang masih muda dan ia mengakui hal itu demi menjaga kesopanan (6-7). Namun, ia tidak tahan dan menjadi marah karena Ayub merasa diri lebih benar di hadapan Allah (1-3).

Elihu melihat pembelaan diri Ayub yang mengambil bentuk pengadilan (Ayb. 31) sebagai tindakan yang terlalu berani. Ia juga marah kepada sahabat-sahabat Ayub yang tidak bisa menunjukkan apa-apa.

Kemarahan dan semangat muda di dalam diri Elihu justru membuatnya menjadi orang yang arogan. Ia mengaku bahwa ia mendapat pengertian dari Tuhan (8). Namun, ia malah merendahkan dan menolak hikmat orang tua (9). Ia berkata bahwa ia akan bersikap netral dan tidak memihak serta tidak akan menggunakan pemikiran sahabat Ayub.

Secara sepintas Elihu terlihat sebagai penolong yang memberi jalan keluar atas kebuntuan di antara Ayub dan sahabat-sahabatnya. Namun, sebetulnya Elihu menunjukkan bagaimana dia justru berlagak seolah-olah dia adalah pihak yang paling benar di antara mereka. Inilah yang nantinya membuat ia hanya berfokus pada pengertiannya sendiri dan tidak sampai pada hikmat Allah.

Bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi dua pihak yang berselisih? Kita belajar dari kesalahan Elihu, yaitu tidak menjadi orang yang paling benar di antara kedua pihak. Kita justru harus membawa kedua belah pihak kepada Allah. Jika kita tampil sebagai orang yang paling benar, kita tidak lagi dapat menerima kebenaran Allah dan inilah yang membuat kita menjadi orang yang tidak benar.

Apakah ada orang di sekitar kita yang sedang berselisih? Kita dipanggil untuk membawa keduanya kepada kebenaran Allah, bukan hadir sebagai orang yang paling benar. [RGD]

e-SH versi web: https://www.sabda.org/publikasi/sh/2023/06/07/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab: https://alkitab.sabda.org/?Ayub+32
Mobile: https://alkitab.mobi/tb/passage/Ayub+32

Ayub 32

 1  Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.
 2  Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,
 3  dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.
 4  Elihu menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka lebih tua dari pada dia.
 5  Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.
 6  Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: "Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu.
 7  Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.
 8  Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.
 9  Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.
10  Oleh sebab itu aku berkata: Dengarkanlah aku, akupun akan mengemukakan pendapatku.
11  Ketahuilah, aku telah menantikan kata-katamu, aku telah memperhatikan pemikiranmu, hingga kamu menemukan kata-kata yang tepat.
12  Kepadamulah kupusatkan perhatianku, tetapi sesungguhnya, tiada seorangpun yang mengecam Ayub, tiada seorangpun di antara kamu menyanggah perkataannya.
13  Jangan berkata sekarang: Kami sudah mendapatkan hikmat; hanya Allah yang dapat mengalahkan dia, bukan manusia.
14  Perkataannya tidak tertuju kepadaku, dan aku tidak akan menjawabnya dengan perkataanmu.
15  Mereka bingung, mereka tidak dapat memberi sanggahan lagi, mereka tidak dapat berbicara lagi.
16  Haruskah aku menunggu, karena mereka putus bicara, karena mereka berdiri di sana dan tidak memberi sanggahan lagi?
17  Akupun hendak memberi sanggahan pada giliranku, akupun akan mengemukakan pendapatku.
18  Karena aku tumpat dengan kata-kata, semangat yang ada dalam diriku mendesak aku.
19  Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup.
20  Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan.
21  Aku tidak akan memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun,
22  karena aku tidak tahu menyanjung-nyanjung; jika demikian, maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku."


e-SH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Diterbitkan dan Hak Cipta(c) oleh Scripture Union Indonesia
e-SH  Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
(e-SH) owner-i-kan-akar-Santapan-Harian@hub.xc.org
- - -
Anda diberkati melalui Santapan Harian?
Mari mendukung pelayanan Yayasan Pancar Pijar Alkitab (PPA)
Rekening BCA cab Pintu Air no. 106.30066.22 an. Yay Pancar Pijar Alkitab

0 komentar:

Posting Komentar