(e-SH) 12 Oktober -- Yesaya 6:1-13 - Menjadi Utusan Tuhan

Posted On // Leave a Comment

e-SH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                        e-Santapan Harian
      Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA

Tanggal: Senin, 12 Oktober 2020
Ayat SH: Yesaya 6:1-13

Judul: Menjadi Utusan Tuhan

Kematian Raja Uzia membuat keadaan Yehuda tidak kondusif. Umat hanyut dalam ritual penyembahan berhala. Perilaku mereka menyimpang dan menjauh dari persekutuan dengan Tuhan. Walaupun keadaan Yehuda sudah tidak seperti yang Tuhan harapkan, ternyata Ia tidak tinggal diam. Setelah rentetan berita penghukuman, Tuhan tetap memperhatikan umat-Nya. Ia memberi mereka pengharapan dengan mengutus seorang nabi. Nabi ini menjadi juru bicara Tuhan dalam menyampaikan pesan-Nya kepada umat.

Ketika Tuhan hendak mengutus nabi-Nya, terlebih dahulu Ia mempersiapkan nabi itu agar layak menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

Pertama, Yesaya mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ini perjumpaan supranatural yang tidak biasa, "... aku melihat Tuhan ..." (1). Ia berjumpa dengan Pribadi yang mahadahsyat. Perjumpaan ini meneguhkan pengutusannya.

Kedua, Yesaya mengalami proses pengudusan. Perjumpaan dengan Tuhan ini membuat Yesaya menyadari dirinya dan bangsanya yang berdosa. Namun, Tuhan menguduskannya agar layak menjadi alat-Nya, "... kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni" (7).

Ketiga, Yesaya menyambut panggilan sebagai utusan. Ia memberi diri menjadi alat Tuhan dan siap menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Katanya, "Ini aku, utuslah aku!" (8).

Keempat, Yesaya mendapat tuntunan untuk melaksanakan tugas. Sebagai utusan, Yesaya tidak boleh memiliki rencana pribadi. Apa yang dikerjakannya semata-mata hanya kehendak dari yang mengutusnya, yaitu Tuhan. "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini ..." (9) merupakan penegasan bahwa Yesaya harus bertindak sesuai arahan Tuhan.

Menjadi utusan Tuhan merupakan kehormatan bagi kita. Pengalaman-pengalaman rohani bersama dengan Tuhan akan menolong kita untuk senantiasa menjaga panggilan dan kepekaan kita terhadap kehendak Tuhan. Dengan mengalami berbagai pengalaman rohani, kita akan dimampukan untuk terus mengikuti tuntunan-Nya. [MAM]

e-SH versi web:https://www.sabda.org/publikasi/sh/2020/10/12/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab: https://alkitab.sabda.org/?Yesaya+6:1-13
Mobile: https://alkitab.mobi/tb/passage/Yesaya+6:1-13

Yesaya 6:1-13

 1  Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.
 2  Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang.
 3  Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!"
 4  Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap.
 5  Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."
 6  Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah.
 7  Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: "Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni."
 8  Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!"
 9  Kemudian firman-Nya: "Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!
10  Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh."
11  Kemudian aku bertanya: "Sampai berapa lama, ya Tuhan?" Lalu jawab-Nya: "Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi.
12  TUHAN akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong.
13  Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!"


e-SH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
Diterbitkan dan Hak Cipta(c) oleh Scripture Union Indonesia
e-SH  Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
(e-SH) owner-i-kan-akar-Santapan-Harian@hub.xc.org
- - -
Anda diberkati melalui Santapan Harian?
Mari mendukung pelayanan Yayasan Pancar Pijar Alkitab (PPA)
Rekening BCA cab Pintu Air no. 106.30066.22 an. Yay Pancar Pijar Alkitab

0 komentar:

Posting Komentar