(e-SH) 12 Desember -- Ayub 32:1-22 - Allah Sumber Hikmat

Posted On // Leave a Comment

e-SH(c) ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
                        e-Santapan Harian
      Sarana untuk menggumuli makna Firman Tuhan bagi hidup
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA

Tanggal: Senin, 12 Desember 2016
Ayat SH: Ayub 32:1-22

Judul: Allah Sumber Hikmat

Elihu berpegang pada pendapat umum yang menganggap bahwa seseorang yang berumur lanjut pasti berhikmat dan tidak demikian halnya dengan orang muda (6). Pandangan ini lazim karena orang yang lanjut umur diyakini memiliki banyak pengalaman karena dianggap sudah makan asam garam kehidupan.

Elihu mempunyai paradigma sendiri. Ia menyakini bahwa 'roh Allah yang di dalam manusia dan nafas Yang Mahakuasa' (8) yang memungkinkan seseorang berhikmat. Karena itu, ia berpendapat bahwa "hanya Allah yang dapat mengalahkan dia [Ayub], bukan manusia" (13). Dalam hal ini, pemikiran Elihu benar karena hikmat dalam hidup orang beriman tidak boleh didasarkan pada akal budi manusia, panjangnya usia, kekuasaan, dan kekayaan yang dimiliki manusia. Sebab, hikmat adalah pemberian Allah yang berharga dan tidak ternilai.

Meskipun Elihu menyatakan kebenaran bahwa hikmat berasal dari Allah, tetapi penulis kitab ini menyatakan alasan mengapa Elihu bersikeras untuk mengemukakan pendapatnya. Alasan utamanya adalah "supaya merasa lega" (20). Kalimat tersebut hanya bersifat emosional belaka. Sebenarnya, motif terselubung Elihu adalah menyalahkan dan mengalahkan Ayub ketimbang menimbulkan kesadaran sahabatnya. Dengan berani, Elihu memanipulasi pandangan yang benar untuk menguatkan posisinya yang sedang berdebat dengan Ayub. Malahan, ia berani bersumpah apabila pendapatnya tidak benar, maka "...Pembuatku akan mencabut nyawaku" (22).

Alih-alih menguji apakah motif Elihu saat ia mengutarakan pendapat sesuai dengan hikmat Tuhan atau tidak. Sebagai anak-anak Tuhan, sebaiknya kita menguji terlebih dahulu pendapat atau pandangan yang diutarakan tentang diri sendiri, orang lain, atau Tuhan dan karya-Nya melalui hikmat-Nya dan disertai dengan doa.

Sebelum suatu pendapat atau pernyataan dilontarkan kepada orang lain, hendaknya pandangan tersebut diuji terlebih dahulu, apakah sesuai dengan ajaran Alkitab atau tidak, sebelum dinyatakan secara terbuka. [SS]

e-SH versi web:http://www.sabda.org/publikasi/sh/2016/12/12/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Diskusi renungan ini di Facebook:
https://www.facebook.com/groups/santapan.harian/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Ayat Alkitab: http://alkitab.sabda.org/?Ayub+32:1-22
Mobile: http://alkitab.mobi/tb/passage/Ayub+32:1-22

Ayub 32:1-22

 1  Maka ketiga orang itu menghentikan sanggahan mereka terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya benar.
 2  Lalu marahlah Elihu bin Barakheel, orang Bus, dari kaum Ram; ia marah terhadap Ayub, karena ia menganggap dirinya lebih benar dari pada Allah,
 3  dan ia juga marah terhadap ketiga orang sahabat itu, karena mereka mempersalahkan Ayub, meskipun tidak dapat memberikan sanggahan.
 4  Elihu menangguhkan bicaranya dengan Ayub, karena mereka lebih tua dari pada dia.
 5  Tetapi setelah dilihatnya, bahwa mulut ketiga orang itu tidak lagi memberi sanggahan, maka marahlah ia.
 6  Lalu berbicaralah Elihu bin Barakheel, orang Bus itu: "Aku masih muda dan kamu sudah berumur tinggi; oleh sebab itu aku malu dan takut mengemukakan pendapatku kepadamu.
 7  Pikirku: Biarlah yang sudah lanjut usianya berbicara, dan yang sudah banyak jumlah tahunnya memaparkan hikmat.
 8  Tetapi roh yang di dalam manusia, dan nafas Yang Mahakuasa, itulah yang memberi kepadanya pengertian.
 9  Bukan orang yang lanjut umurnya yang mempunyai hikmat, bukan orang yang sudah tua yang mengerti keadilan.
10  Oleh sebab itu aku berkata: Dengarkanlah aku, akupun akan mengemukakan pendapatku.
11  Ketahuilah, aku telah menantikan kata-katamu, aku telah memperhatikan pemikiranmu, hingga kamu menemukan kata-kata yang tepat.
12  Kepadamulah kupusatkan perhatianku, tetapi sesungguhnya, tiada seorangpun yang mengecam Ayub, tiada seorangpun di antara kamu menyanggah perkataannya.
13  Jangan berkata sekarang: Kami sudah mendapatkan hikmat; hanya Allah yang dapat mengalahkan dia, bukan manusia.
14  Perkataannya tidak tertuju kepadaku, dan aku tidak akan menjawabnya dengan perkataanmu.
15  Mereka bingung, mereka tidak dapat memberi sanggahan lagi, mereka tidak dapat berbicara lagi.
16  Haruskah aku menunggu, karena mereka putus bicara, karena mereka berdiri di sana dan tidak memberi sanggahan lagi?
17  Akupun hendak memberi sanggahan pada giliranku, akupun akan mengemukakan pendapatku.
18  Karena aku tumpat dengan kata-kata, semangat yang ada dalam diriku mendesak aku.
19  Sesungguhnya, batinku seperti anggur yang tidak mendapat jalan hawa, seperti kirbat baru yang akan meletup.
20  Aku harus berbicara, supaya merasa lega, aku harus membuka mulutku dan memberi sanggahan.
21  Aku tidak akan memihak kepada siapapun dan tidak akan menyanjung-nyanjung siapapun,
22  karena aku tidak tahu menyanjung-nyanjung; jika demikian, maka segera Pembuatku akan mencabut nyawaku."


e-SH(c) +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ YLSA
     Diterbitkan dan Hak Cipta(c) oleh Scripture Union Indonesia
              e-SH  Ditulis oleh penulis-penulis Indonesia
           (e-SH) owner-i-kan-akar-Santapan-Harian@hub.xc.org

0 komentar:

Posting Komentar